You are here
Home > Highlighted > AMD Akuisisi Saingannya Xilinx, Bagaimana Nasib Intel?

AMD Akuisisi Saingannya Xilinx, Bagaimana Nasib Intel?

Facebooktwitterrssyoutubeby feather

Advanced Micro Devices atau AMD sepakat membeli pesaingnya Xilinx Inc., dalam bentuk saham sebesar USD35 miliar atau sekitar Rp 513 triliun. Kesepakatan itu diumumkan pada Rabu, 28 Oktober 2020.

Penggabungan dua perusahaan akan menghasilkan total 13.000 karyawan. Kesepakatan ini diharapkan akan rampung pada akhir 2021.

Bagi AMD, langkah strategis ini dibuatnya sekaligus ingin menghadang Intel dan Nvidia di industri semikonduktor. “Akuisisi kami terhadap Xilinx menandai langkah kami untuk menjadi pemimpin industri komputasi berkinerja tinggi dan menjadi mitra perusahaan teknologi terbesar dan terpenting di dunia,” kata Lisa Su, CEO AMD dikutip dari CNN.

Baca Juga: Tantang Nvidia, AMD Rilis Radeon RX 6000 Series

Menurut The New York Times, AMD berencana menggunakan akuisisi ini untuk memperluas bisnisnya menjadi chip untuk pasar komunikasi nirkabel 5G dan elektronik otomotif. Transaksi ini juga dapat membantu AMD meraih bagian yang lebih besar dari penjualan komponen untuk pusat data di mana sudah ada Nvidia di sana.

Lisa memandang, AMD telah lama kehilangan jati dirinya sebagai pemimpin industri komputasi. Selama ini, perusahaannya berada di bawah Intel. Pasar menerima AMD karena harganya lebih rendah dari Intel. Namun, belakangan ini teknologi AMD telah berada di atas Intel, sementara Intel sendiri kesulitan mengejar dan punya masalah di sisi keuangan.

Di lain pihak, Intel melaporkan penurunan laba kuartalan sebesar 29 persen, yang menyebabkan sahamnya jatuh lebih dari 10 persen. AMD, sebaliknya, laba kuartalannya telah meningkat 148 persen. Saham AMD, yang diperdagangkan lima tahun lalu dengan harga sekitar USD2 per saham, telah naik hampir 80 persen tahun ini dan ditutup pada 28 Oktober 2020 pada USD78,88, turun 4 persen pada hari itu. Nilai pasar AMD sekarang hampir USD100 miliar.

Ketertarikan AMD pada Xilinx meniru jalur yang diambil oleh Intel. Pada 2015, Intel memasuki bisnis yang sama dengan membayar USD16,7 miliar untuk Altera, pesaing utama Xilinx. Kesepakatan itu, yang sebagian terinspirasi oleh prospek memproduksi chip Altera di pabrik Intel, telah gagal menghasilkan keuntungan besar karena proses manufaktur Intel telah tertinggal dari para pesaingnya.

Bahkan, belum lama ini Intel menjual sebagian bisnis chip memori kepada perusahaan semikonduktor asal Korea Selatan, SK Hynix sebesar USD9 miliar atau sekitar Rp132 triliun. SK Hynix digadang akan menjadi pembuat chip memori flash terbesar kedua di dunia. Pabrikan semikonduktor lain, Nvidia, baru-baru ini juga mengumumkan akan mengakuisisi perancang chip ARM yang berbasis di Inggris dengan harga USD16 miliar atau sekitar Rp234 triliun.

Facebooktwitterpinterestmailby feather
Agung Setiawan
Otak-atik, membaca, menulis dan membagikan seputar teknologi.
https://www.onetech.id

Leave a Reply

Top