You are here
Home > Highlighted > Mengapa Huawei dari China Bisa Tumbangkan Samsung dan Apple?

Mengapa Huawei dari China Bisa Tumbangkan Samsung dan Apple?

Facebooktwitterrssyoutubeby feather

Industri smartphone tergoncang oleh pandemi covid-19. Namun tidak dengan China. Di era new normal, ekonomi China melakukan rebound sangat hebat. Bahkan membuat smartphone Huawei untuk kali pertamanya menjadi yang terlaris di dunia.

Catatan ini, membuat ponsel China mengalahkan dominasi Samsung dari Korea Selatan dan Apple dari Amerika Serikat. Hebatnya lagi, smartphone Huawei jadi yang terlaris dengan tanpa menjual satu pun unitnya di tanah Paman Sam.

Kenapa mereka begitu digdaya, sekalipun covid-19 sedang mencekam di seluruh dunia? Jawabannya sangat sederhana, karena penduduk China sangat mencintai dan membeli produk mereka sendiri. Tidak hanya “makan” slogan yang sering kita dengar di Indonesia. Di sini kita tidak asing mendengar “Cintailah produk-produk Indonesia,” tetapi nyatanya????

Dari catatan Canalys, Huawei mengirimkan 55,8 juta smartphonenya, yang menjadikannya nomor sati di dunia. Sekalipun demikian, senyatanya angka ini turun 5% YoY. Di sisi lain, peringkat kedua yang dihuni Samsung, mengalami penurunan 30% atau hanya menjual 53,7 juta smartphone. Pasar smartphone Q2 2020 ini sekaligus menandai kali pertama dalam sembilan tahun bahwa perusahaan selain Samsung atau Apple telah memimpin pasar.

Seyogyanya, kekuatan penjualan smartphone Huawei bukan datang dari luar China. Ekspor Huawei turun 27% di Q2. Isu utamanya masih soal haramisasi pemerintah AS terhadap ponsel besutan Ren Zhengfei. Namun Huawei mampu meningkatkan penjulan domestiknya 8% di Q2, dan menjadikannya mendominasi pasar smartphone di China dengan menguasai 70%. “Ini adalah hasil yang luar biasa yang diperkirakan beberapa orang pada tahun lalu,” kata analis senior Canalys, Ben Stanton.

Sumber: www.canalys.com
Sumber: www.canalys.com

Menurut para analis, capaian Huawei adalah soal bagaimana mereka cermat dalam membidik peluang new normal. Mereka langsung menggebrak saat pabrik-pabrik dibuka kembali dengan protokol kesehatan yang ketat. Mereka sadar bahwa pasar utama mereka adalah di China, sedangkan pasar para pesaingnya adalah di negara-negara yang porak poranda oleh pandemi covid-19. “Jika bukan karena COVID-19, ini (Huawei jadi nomor 1) tidak akan terjadi,” tambah Stanton.

Huawei tidak sendirian. Produsen smartphone China lainnya mengambil langkah serupa. Di belakang Huawei ada Vivo dan Oppo di tempat kedua dan ketiga, yang tumbuh 23% dan 16%. Lalu Xiaomi mampu menjual 9,3 juta unit dan baru produk smartphone dari Apple.

Kunci sukses produk China berjaya di tengah pandemi, bukan saja soal rakyatnya yang cinta produk dalam negeri. Barang akan laku di tengah ancaman covid-19, jika negara itu punya jaringan e-commerce yang kuat. Nah, China punya keduanya: rakyat yang cinta produk dalam negeri dan punya e-commerce moncer!

Baca Juga: Sukses Di Laptop, AMD Ryzen 4000 Series Masuk Ke PC Desktop

Baca Juga: H3C Tunjuk PT. ECS Indo Jaya Sebagai Distributor Di Indonesia

Pemain utamanya adalah Alibaba, JD.com dan Pinduoduo yang mendorong strategi marketing dengan berbagai insentif, sehingga industri smartphone mampu rebound. “Saluran e-commerce yang matang di Tiongkok sangat penting untuk pemulihan pasar smartphone China,” kata Jason Low, Analis Senior di Canalys.

Apa yang dicapai oleh Huawei bisa menjadi pesan penting untuk para mitra pengembang dan pemasok yang berasal dari Eropa. Tentu mereka akan bangga. Namun demikian, prestasi ini perlu diimbangi dengan usaha ekstra untuk mempertahankannya di masa-masa mendatang. Analis menduga, saat pandemi reda, Samsung dan Apple akan kembali ke singgasana lamanya

Samsung kalah dari Huawei karena kehadirannya yang sangat kecil di China. Pasar utamanya memang bukan di sana, tetapi berada di Brasil, India, Amerika Serikat, dan Eropa yang saat ini sedang tiarap, buntut dari serangan virus corona. Namun saat dunia sudah sembuh, bisa jadi Samsung dan juga Apple akan rebound dan siap mengancam dominasi Huawei.

Sekalipun demikian, kisah Huawei ini pantas menjadi pelajaran bagi kita semua. Jangan latah bilang, “China, Aseng, Asung, dst.” Tetapi mereka telah menunjukkan kepada kita bahwa jargon “Cintailah produk dalam negeri,” itu benar-benar bekerja! Bukan hanya slogan atau sarana bagi pemerintah membelanjakan anggaran belanja iklannya!

Facebooktwitterpinterestmailby feather
Agung Setiawan
Otak-atik, membaca, menulis dan membagikan seputar teknologi.
https://www.onetech.id

Leave a Reply

Top