You are here
Home > Highlighted > Pengen Cuan Lebih, Kopi Harus Kawin dengan Teknologi

Pengen Cuan Lebih, Kopi Harus Kawin dengan Teknologi

Facebooktwitterrssyoutubeby feather

Popularitas kopi tengah menanjak di Indonesia. Saat kaum muda mendominasi generasi, mereka pun menjadi terdepan menentukan tren rasa kopi. Jumlah konsumsi kopi kita pun semakin tahun terus meningkat. Maka perlu acara tumplek blek pemangku kepentingan terkait kopi di satu acara, seperti BrewFest 2020, untuk meningkatkan industri kopi tanah air.

“Tujuan (BrewFest) mengangkat pamor kopi dan teh yang sekarang disebut juga a new coffee,” Ario Fajar, Head of Marketing Toffin saat pembukaan BrewFest di Senayan City Jakarta, 21 Februari 2020.

Toffin sendiri adalah distributor mesin kopi internasional. Dalam menyelenggarakan Brewfest 2020, Toffin menggandeng Cikopi.com sampai Minggu, 23 Februari 2020. Gelaran bertajuk Urban Coffee & Tea Festival itu telah berhasil menggabungkan tiga kegiatan sekaligus dalam satu kesempatan yakni Konferensi, Pameran, dan Apresiasi. “Untuk apresiasi kami menggandeng Zomato untuk memilih Best Coffee Shop,” terang Ario.

Baca Juga: Dubes Italia: Teknologi Canggih Pun Perlu Tampil Cantik

(ki-ka): Stafsus Menkop dan UKM Agus Santoso, Kepala Sub-Direktorat Pengembangan Karir IPB University Handian Purwawangsa, Head of GrabFood Indonesia Hadi Surya Koe, founder First Crack Coffee Evani Jesslyn, founder Indonesia Tea Institute Ratna Somantri ,
dan Head of Marketing PT Toffin Indonesia Ario Fajar.

Ohya saya sebut tadi tumplek blek itu karena ada banyak orang kumpul di BrewFest demi kopi dan teh. Gak tanggung-tanggung dalam 3 hari acara, ada 50 pembicara, 20 orang tampil sebagai Coffee and Tea Master serta 20 brand kopi yang punya tenant di sini. Tidak kurang ada 1.500 partisipan dan 7.500 orang pengunjung.

Senada dengan Aryo, founder First Crack Coffee Evani Jesslyn melihat BrewFest sebagai kesempatan untuk menggabungkan platform yang ada terkait bisnis kopi dan teh. Selain itu, siapa saja bisa mengetahui dan mempelajari perkembangan teknologi, menjadi wadah kreatifitas, dan memberi motivasi bagi kaum muda untuk menjadi entrepreneur.

“Kita punya alam kaya, tetapi perlu ketekunan dan dedikasi yang lebih dan ilmu pengetahuan yang lebih untuk diterapkan di kopi,” harap Jesslyn. 

Dalam sharingnya, ia sangat menekankan pentingnya bekal ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi untuk mengolah kopi menjadi cita rasa juara. Tidak hanya untuk mencapai bisnis yang berhasil atau menguasai pasar, tetapi bekal tersebut mampu mengangkat derajat kopi dan SDM kita ke tingkat global.

Founder and CEO Toffin Indonesia Tony Arifin dan Head of Marketing PT Toffin Indonesia Ario Fajar (dari kiri) tengah menemani Stafsus Menkop dan UKM Agus Santoso berkeliling
di acara BrewFest 2020 di Senayan City, Jakarta (21/2/2020).

Pasar telah membuktikan, produk yang menerapkan teknologi mampu menangguk cuan yang menggiurkan. Brand kopi lokal seperti Kopi Kenangan dan Fore cukup diterima pasar. Namun penjualan semakin gencar ketika mereka mengadopsi teknologi sehingga semakin dekat dengan pelanggannya. Apalagi pelaku bisnis kopi disokong oleh platform antarjemput makanan seperti GoFood dan GrabFood.

Pada September 2019, Nielsen Singapura melaporkan bahwa 95% dari 1.000 responden membeli makanan siap santap selama Juni hingga Agustus 2019. Dari jumlah tersebut, 58% di antaranya menggunakan layanan pesan-antar makanan via aplikasi. Responden tersebut berusia 18-45 tahun, berdomisili di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Balikpapan, Medan dan Makassar.

Di sela BrewFest, Head of GrabFood Indonesia Hadi Surya Koe memberitahukan fakta unik terkait konsumsi kopi. Menurutnya, kopi selalu masih di 5 besar penjualan terlaris melalui aplikasi GrabFood. Untuk waktu pembelian tertinggi, jatuh di hari Rabu dan tiap jam 14.00. “Mungkin di hari Rabu udah mau menuju weekend (mulai jenuh di tengah minggu). Dan (kenapa jam 14.00) mungkin jam butuh kafein, habis makan siang,” sebut Koe.

Biar imbang informasinya, saya coba cari data dari kompetitornya, GoFood. Dari laman websitenya, GoFood mengumumkan 3 pesanan terlaris sepanjang 2019 adalah, ayam geprek sebagai juaranya, lalu kopi susu dan posisi ketiga adalah pisang goreng.  Sebagai terlaris kedua, kopi susu terjual sebanyak 15 juta gelas atau sama saja dengan mengisi 2,5 kali kolam renang standar Olimpiade! Wow, amazing!!! 

Ilustrasi dari GoFood

Makin yakin aja kalau teknologi benar-benar membuat bisnis kopi semakin cuan. Bagi pembeli, tentu sentuhan teknologi membuat banyak keuntungan. Masih dari hasil riset Nielsen, pembeli memilih membeli pakai aplikasi karena menghemat waktu untuk antri, hemat waktu beli, ada promosi, pembayaran praktis, dan ada potongan tunai.

Peran teknologi kembali mendapat sorotan Stafsus Menkop dan UKM Agus Santoso. Ia menilai pelaku UKM yang menjual produk kopi dan the perlu mendapat sentuhan teknologi. Ia mengusulkan, mereka yang tergabung dalam platform antar makanan online, apresiasi yang mereka dapatkan berupa jumah bintang dapat dimonetasikan.

“Saya usul, UKM (kopi dan teh) yang dapat bintang 5, bisa mendapat apresiasi. Kunci suksesnya, orangnya mau berkembang, dapat akses pembiayaan, dan upgrade skill termasuk (intervensi) teknologi,” papar Santoso.

Suasana BrewFest 2020
View this post on Instagram

Kopi dan teh Indonesia sudah terkenal di seluruh dunia. Tetapi kita masih perlu meningkatkan kemampuan SDM dan teknologi untuk mengoptimasi kenikmatan kopi sekaligus mengkapitalisasinya sebagai sebuah brand yang kuat. . Semua potensi kopi dan teh ada di Indonesia. Soal pasar, Head of Marketing PT Toffin Indonesia Ario Fajar menuturkan jumlah kedai kopi di Indonesia dalam tiga tahun terakhir meningkat tiga kali lipat menjadi 3.000 kedai di akhir 2019. "Realnya bisa lebih banyak lagi," katanya dalam pembukaan #BrewFest2020 di Senayan City, Jakarta 21/2/2020 yang diselenggarkaan Toffin dan Cikopi.com. . Senada dengan Aryo, founder First Crack Coffee Evani Jesslyn dan founder Indonesia Tea Institute Ratna Somantri sepakat bahwa #coffee dan #tea Indonesia punya kualitas bagus. Hal ini sejalan dengan makin banyak penduduk kita yang menggemari keduanya.Tidak heran, semakin hari semakin banyak brand lokal bermain di sini. Apalagi, kehadiran mereka disokong oleh perguruan tinggi dan platform layanan antar-jemput makanan digital. . Bahkan, maraknya brand lokal diakui Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Agus Santoso, mulai memuat brand internasional membuka mata lebar-lebar. Dari sisi petani, menjamurnya brand, lokal maupun internasional, membuat pendapatan meningkat. . "Kita harus membuat komunitas yang bisa mengalahkan brand luar negri, mereka mulai kelabakan karena tumbuh brand kedai kopi yang disukai konsumen," kata Agus. . #BrewFest 2020 mengangkat kopi dan teh sebagai isu utama yang mencakup bisnis (komersial), karier atau profesi, hobby & passion, inovasi & pengembangan, tren serta gaya hidup, yang dikemas dalam tiga konsep, yakni Talk, Play, Show. . Keterangan Foto (ki-ka): Kepala Sub-Direktorat Pengembangan Karir IPB University Handian Purwawangsa, Head of GrabFood Indonesia Hadi Surya Koe, founder First Crack Coffee Evani Jesslyn, founder Indonesia Tea Institute Ratna Somantri , dan Head of Marketing PT Toffin Indonesia Ario Fajar.

A post shared by Agung Setiawan (@fransalchemist) on

Facebooktwitterpinterestmailby feather
Agung Setiawan
Otak-atik, membaca, menulis dan membagikan seputar teknologi.
https://www.onetech.id

Leave a Reply

Top