You are here
Home > Highlighted > Perusahaan Teknologi Bersatu Mendukung Kebijakan Imigrasi Joe Biden

Perusahaan Teknologi Bersatu Mendukung Kebijakan Imigrasi Joe Biden

Facebooktwitterrssyoutubeby feather

Hanya beberapa jam setelah dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, langsung membatalkan sejumlah kebijakan kunci Donald Trump. Beberapa perintah eksekutif sudah ditandatangani, yang membuat petinggi perusahaan teknologi bernapas lega.

“Tidak bisa membuang waktu jika menyangkut penanganan krisis yang kita hadapi,” cuit Biden dalam perjalanan menuju Gedung Putih menyusul pelantikannya.

Sektor yang masuk dalam perintah eksekutifnya adalah perubahan iklim, imigrasi, dan hubungan rasial. Khusus imigrasi, Biden telah berikrar untuk: Mencabut larangan Trump terhadap warga negara mayoritas Muslim untuk memasuki wilayah AS; Menghentikan pembangunan tembok di perbatasan AS-Meksiko.

Selain itu, Biden kabarnya akan mengumumkan undang-undang di hari pertamanya saat menjabat untuk memberikan jalan menuju kewarganegaraan AS bagi jutaan warga imigran.

Hal ini terkait dengan janjinya saat kampanye yang mengatakan bahwa sekitar 11 juta imigran di AS akan mendapatkan jalan untuk mendapatkan kewarganegaraan.

Baca Juga: Setelah 15 Tahun AMD Ungguli Intel Di CPU Desktop

Para pemimpin perusahaan teknologi AS tampak mendukung kebijakan Joe Biden. Bahkan mendorong supaya segera direalisasikan. Hal ini diungkap oleh The Verge.

CEO Apple Tim Cook menyambut baik langkah agresif pemimpin baru AS ini. “Kami menyambut baik komitmen Presiden Biden untuk mengejar reformasi imigrasi komprehensif yang mencerminkan nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan martabat Amerika. Upaya ini akan memperkuat komunitas Amerika dan jalan menuju peluang yang telah lama dikembangkan negara ini.”

Dengan langkah ini, Cook mengaku bahwa para petinggi perusahaan teknologi mendukung setiap langkah yang mengarah pada perbaikan sistem imigrasi yang rusak, termasuk solusi permanen untuk para imigram yang bermimpi mendapatkan status kewarganegaraan.

Senada dengan Cook, CEO Google Sundar Pichai juga mengeluarkan pernyataan untuk mendukung kebijakan baru terkait imigrasi. “Kami menyambut tindakan cepat @POTUS untuk mengatasi Covid-19, Perjanjian Iklim Paris, dan reformasi imigrasi. Google telah mendukung tindakan penting ini dan kami berharap bisa bekerja sama dengan pemerintahan yang baru untuk membantu AS pulih dari pandemi dan pertumbuhan ekonomi kita,” cuit Pichai.

“Kami bersyukur bahwa Presiden Biden dan Wakil Presiden Harris menindaklanjuti komitmen mereka untuk mengirim RUU ke Kongres untuk memperbaiki sistem imigrasi kami yang rusak,” kata presiden FWD.us Todd Schulte dalam sebuah pernyataan.

FWD.us yang pendiriannya disokong oleh CEO Facebook Mark Zuckerberg, adalah sebuah organisasi advokasi imigrasi yang terbentuk pada 2013.

Twitter juga mengeluarkan pernyataan untuk mendukung langkah Joe Biden. “Perintah Eksekutif DACA yang ditandatangani malam ini memberikan harapan bagi #Dreamers. Keragaman membuat AS, perusahaan kami, dan membuat dunia lebih baik,” kata perusahaan itu dalam tweet.

Baca Juga: Intel Gigit Balik AMD Dengan Tiger Lake Bersama Beberapa Laptop OEM

Isu imigrasi mengemuka ketika mantan Presiden Donald Trump mengumumkan untuk menangguhkan percepatan aplikasi visa H-1B. Lalu, Badan Kewarganegaraan dan Imigrasi Amerika Serikat (USCIS) memutuskan, terhitung mulai 3 April 2017, pihaknya akan mengulur waktu “proses premium” persetujuan visa hingga enam bulan.

Perusahaan teknologi biasanya menggunakan visa ini untuk merekrut karyawan dengan potensi tinggi dari luar negeri. Setelah kebijakan ini dikeluarkan, perusahaan teknologi, dari Apple hingga Google, mengeluarkan pernyataan yang memprotes larangan pekerja imigran kepada pemerintahan Trump.

Trump melanjutkan kebijakan ini. Dia menandatangani perintah eksekutif yang menangguhkan pekerja asing dengan visa H-1B dan visa L-1 yang memungkinkan perusahaan untuk memindahkan pegawai dari kantornya di luar negeri. Pembatasan visa ini akan diterapkan mulai 24 Juni 2020 hingga akhir tahun. Trump mengatakan perintah eksekutif ini diterapkan untuk membatu memulihkan ekonomi AS di tengah pandemi virus Corona, dan akan menghadirkan lowongan pekerjaan baru warga AS.

Tapi langkah ini langsung ditentang oleh perusahaan teknologi yang banyak menggaet pekerja lewat skema visa H-1B. “Mencegah profesional berkemampuan tinggi untuk memasuki negara ini dan berkontribusi pada pemulihan ekonomi Amerika menempatkan daya saing global Amerika dalam bahaya,” kata Amazon dalam keterangan resminya.

Dampak pembatasan imigrasi visa H-1B memang akan paling dirasakan oleh perusahaan teknologi. Dari data U.S. Citizenship and Immigration Services pada tahun 2019, delapan dari 10 perusahaan yang mendapatkan visa H-1B terbanyak berasal dari perusahaan teknologi, dengan Amazon di peringkat pertama dengan hampir 3.000 permintaan yang diterima.

Melihat harapan yang dihembuskan Joe Biden, TechNet, sebuah grup perdagangan teknologi, menandatangani surat National Immigration Forum kepada Kongres, Rabu 20 Januari 2021. TechNet mendorong para anggotanya untuk segera menyetujui rencana imigrasi administrasi Joe Biden. Lusinan anggota TechNet juga menandatangani surat tersebut, termasuk Amazon, Apple, Facebook, Google, dan Microsoft.

“Kita dapat menciptakan sistem imigrasi yang modern, manusiawi, dan efektif yang menjunjung tinggi janji terbaik Amerika: menjadi bangsa di mana orang dapat datang dari seluruh dunia untuk bekerja, berkontribusi, dan membangun kehidupan yang lebih baik untuk diri mereka sendiri, keluarga mereka, dan masyarakat kita secara keseluruhan, “kata surat TechNet itu.

Foto: CNN

Facebooktwitterpinterestmailby feather
Agung Setiawan
Otak-atik, membaca, menulis dan membagikan seputar teknologi.
https://www.onetech.id

Leave a Reply

Top