You are here
Home > Editor Picks > Sekelumit tentang Red Hat yang Ternyata Bisa Angkat UMKM Go Digital

Sekelumit tentang Red Hat yang Ternyata Bisa Angkat UMKM Go Digital

Facebooktwitterrssyoutubeby feather

Digitalisasi sudah menjadi keniscayaan. Pandemi membuat prosesnya semakin cepat. Dengan segala pembatasan, kita dipaksa untuk melakukan banyak aktifitas di rumah.

Rumah yang awalnya banyak dijadikan tempat tidur, kini menjadi pusat kegiatan. Mulai dari bekerja dan belajar, baik itu sekolah maupun les. Belanja pun dari rumah, termasuk untuk kebutuhan harian, mingguan dan bulanan.

Dikutip dari Liputan6.com, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan nilai transaksi digital terus meningkat di tengah pandemi COVID-19.

“Transaksi ekonomi dan keuangan digital tumbuh tinggi seiring meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring, perluasan dan kemudahan sistem pembayaran digital, serta akselerasi digital banking,” katanya, Kamis, 22 Juli 2021.

Nilai transaksi e-commerce pada triwulan I dan II 2021 meningkat 63,36 persen (yoy) menjadi Rp186,75 triliun, dan diproyeksikan meningkat 48,4 persen (yoy) mencapai Rp395 triliun untuk keseluruhan 2021.

Baca Juga: AMD EPYC Hadirkan Solusi Bagi Perusahaan Yang Terapkan WFH

Bank Indonesia juga mencatat, nilai transaksi Uang Elektronik (UE) pada triwulan I dan II 2021 meningkat 41,01 persen (yoy) mencapai Rp132,03 triliun, dan diproyeksikan tumbuh 35,7 persen (yoy) mencapai Rp278 triliun untuk keseluruhan tahun 2021.

Hal senada juga terjadi di marketplace. Dikutip dari Kontan.co.id Total nilai transaksi marketplace di tahun 2020 tercatat lebih tinggi dari perkiraan Bank Indonesia (BI), yakni Rp253 triliun. Nyatanya, sepanjang tahun 2020, total nilai transaksi 4 marketplace terbesar di Indonesia mencapai Rp276,87 triliun. Sementara, total nilai transaksi 14 markteplace terbesar di Indonesia tahun lalu tercatat Rp 327,49 triliun.

Ke depan, Perry Warjiyo yakin, tren ekonomi dan keuangan digital terus meningkat. Tidak hanya marketplace, tetapi juga pengunaan uang elektronik, dan transaksi digital banking, apalagi ada pandemi COVID-19 yang mempersempit pergerakan aktivitas.

“Selain itu, juga karena adanya digitalisasi sistem pembayaran, meningkatnya preferensi dan akseptasi masyarakat terhadap teknologi digital, akan semakin mendoorng pesatnya transaksi ekonomi digital, akselerasi perkembangan fintech, dan digital banking ke depan,” tutur Perry, Selasa, 26 Januari 2021.

Transaksi digital yang makin marak membuat e-commerce dan marketplace menjadi aktor penting dalam kemajuan ekonomi. Keduanya berbeda. Gampangnya, marketplace adalah pasar digital, mall digital, yang tidak lain platform yang bertugas sebagai perantara antara penjual dan pembeli untuk melakukan proses transaksi produk atau jasa secara online. Contohnya seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Gojek, dan lainnya.

Sedangkan e-commerce hanya menjual berbagai jenis produk dari website itu saja. Sebuah brand atau seorang penjual membuat sebuah website khusus untuk menjual barang-barang yang dia jual. Semua transaksi dilakukan melalui website menggunakan shopping cart dan payment gateway.

Baik marketplace maupun e-commerce, yang saya sebut sebagai bisnis digital, menyediakan berbagai fasilitas seperti metode pembayaran, estimasi pengiriman, pemilihan produk sesuai kategori, dan fitur yang lainnya. Semakin banyak marketplace di Indonesia, persaingan di antara mereka makin kencang dan sehat. Artinya, SDM yang ada dibaliknyaterus berinovasi supaya bisa semakin cepat berlari di antara para pesaing.

Bagan yang menggambarkan perbedaan antara arsitektur monolithic dan arsitektur microservice

Jembatan untuk mempertemukan pelaku bisnis digital dengan para pembeli adalah dengan menggunakan aplikasi. Aplikasi ini dirancang untuk menjalankan proses bisnis yang terjadi di dalam bisnis digital. Untuk mengembangkan aplikasi, mereka ditawarkan pada dua macam arsitektur: Monolithic dan Microservice.

Sesuai dengan namanya, arsitektur monolithic adalah arsitektur pengembangan aplikasi yang menggabungkan jadi satu antara kode program, database, dan tampilan program. Lebih ringkas, memang. Namun dalam praktiknya, arsitektur ini terkendala oleh performa yang akan menurun ketika aplikasi semakin besar.

Kelemahan lainnya adalah sulit untuk adaptasi teknologi baru; Aplikasi semakin besar dan kompleks sehingga sulit dipahami; Proses update akan mempengaruhi keseluruhan aplikasi; Tidak dapat menggunakan bahasa pemrograman yang berbeda.

Para pengembang tampaknya mulai meninggalkan arsitektur monolithic dan bermigrasi ke arsitektur microservice. Arsitektur microservice merupakan arsitektur pengembangan aplikasi dengan cara membagi aplikasi menjadi komponen dan service terkecil. Service tersebut berdiri mandiri dan berjalan sesuai dengan fungsinya. Kumpulan dari service ini akan saling berkomunikasi sehingga menjadi satu kesatuan dan menjadi sistem yang besar.

Contoh aplikasi yang menggunakan arsitektur microservice adalah gojek online, baik itu Gojek, Grab, Maxim, atau yang lainnya. Setidaknya, ada 5 service yang dibagi oleh mereka, yakni manajemen pengemudi, manajemen penumpang, manajemen perjalanan, manajemen pembayaran dan billing.

Aplikasi penjualan tiket seperti Tokopedia, Tiket.com, atau banyak lainnya juga menggunakan arsitektur ini. Di dalam satu aplikasi ada beberapa pembagian service, di antaranya data order, kirim email, kirim notifikasi, kirim SMS, manajemen data user, manajemen data karyawan, data pengunjung, otentikasi karyawan, dan otentikasi pengguna. 

Menggunakan arsitektur microservices, para pemain bisnis digital dapat lebih cepat membangun dan meng-update aplikasi. Secara ringkas, arsitektur microservice punya kelebihan: Memiliki kompleksitas yang kecil; Dapat mengembangkan aplikasi multi-platform; Setiap service dapat berdiri sendiri; Proses update hanya terjadi pada service yang ingin dilakukan update saja.

Baca Juga: Tren WFH, Hitachi Vantara Tawarkan Solusi Percepat Transformasi Digital

Berbagai kelebihan microservices sangat penting, karena sebuah aplikasi bisnis digital pada dasarnya sangat rumit. Dalam satu aplikasi Tokopedia terhubung dengan 11 juta toko di 99 persen kecamatan dari Sabang sampai Merauke. Belum lagi jumlah pembeli dengan berbagai macam sistem pembayaran.

Begitu juga dengan satu aplikasi tiket perjalanan yang harus terhubung kepada banyak perusahaan. Mulai dari perusahaan kereta api, berbagai maskapai penerbangan, hotel, dan lain sebagainya. Arsitektur microservice dapat mengatasi kompleksitas yang cukup besar. Tiap kebutuhan yang ada dalam aplikasi telah dibagi menjadi bagian-bagian kecil. Juga dimungkinkan untuk mengembangkan aplikasi lintas platform, dan dapat menggunakan bahasa pemrograman sesuai kebutuhan service yang diinginkan.

Dalam dunia pengembangan, microservice berteman karib dengan container. Jika microservices merujuk pada arsitektur pengembangan aplikasi yang dibagi berdasarkan fungsinya, sedangkan container merupakan platform/ tool yang dapat digunakan untuk men-deploy, mengembangkan, dan mengatur aplikasi microservices.

Umumnya dalam satu aplikasi ada banyak container. Nah untuk mengelolanya ada yang dinamakan kubernetes. Kubernetes adalah platform open source untuk mengelola aplikasi yang dimasukkan dan digabungkan di dalam container di atas server cluster. Server-server ini bisa dikategorikan menjadi dua fungsi node master atau node worker. Secara bersama-sama mereka menjalankan aplikasi-aplikasi di atasnya.

Kontainer sendiri adalah environment dengan sumber daya, CPU, dan sistem file untuk satu aplikasi. Jadi, aplikasi tersebut akan memiliki sumber daya sendiri. Keuntungannya, aplikasi jadi tidak mudah mengalami downtime.

Kubernetes memiliki kemampuan untuk melakukan penjadwalan aplikasi, load balancing server dan peningkatan kapasitas kontainer secara otomatis. Semua fungsi ini disediakan oleh Control Plane yang bertindak sebagai otak dari cluster Kubernetes. Itulah mengapa kubernetes populer dipakai untuk membangun microservices.    

Dengan menggunakan Kubernetes, proses pengembangan aplikasi jadi lebih cepat karena proses scale up aplikasi tidak dibuat sekaligus seperti pada pendekatan monolithic.

Untuk mendukung pengembangan aplikasi, salah satu platform yang menjanjikan adalah Red Hat OpenShift Container Platform. Yakni platform Kubernetes enterprise yang sangat ramah bagi para pengembang dan operator untuk membangun, mengembangkan, dan mengatur aplikasi di hybrid cloud maupun infrastruktur multi-cloud. Dengan menggunakan satu platform yang sama, pengembangan aplikasi dapat dipercepat dengan biaya yang rendah.

Ada lima fitur utama yang dimiliki Red Hat OpenShift Container Platform.

Pertama, Self Service Platform. Tim pengembang bisa dengan cepat dan mudah membuat aplikasi menggunakan tool yang sering mereka gunakan sesuai dengan permintaan. Sedangkan tim operator dapat mengoperasikan dan mengontrol aplikasi yang telah dibuat. Dalam hal ini, Red Hat menjadi juru damai antara tim pengembang yang ingin terus berinovasi dengan tim operator yang lebih menyenangi kestabilan.

Kedua, berbasis container. OpenShift menyediakan platform berbasis container untuk men-deploy dan menjalankan aplikasi microservices.

Ketiga, mendukung berbagai bahasa pemrograman. Tim pengembang mampu menjalankan berbagai aplikasi dengan banyak bahasa pemrograman, framework dan database pada platform yang sama sehingga memudahkan mereka untuk untuk memanfaatkan ekosistem berbasis container. Tim pengembang tidak perlu membongkar atau belajar dari awal, Red Hat sudah memangkas proses tersebut.

Keempat, otomatisasi. OpenShift mengotomatiskan pembangunan aplikasi, deployment, scaling, dan health management.

Kelima, Multiple Interaction Model (User Interface). Tim pengembang dapat membuat dan mengelola aplikasi dengan tools yang beraneka ragam seperti command line tools, multi device web console, atau lingkungan pengembangan Eclipse yang dapat terintegrasi dengan JBoss Developer Studio.

Red Hat OpenShift Container Platform adalah produk yang mendapat sertifikasi sesuai dengan Kubernetes, dan divalidasi oleh Cloud Native Computing Foundation (CNCF).

Tidak heran, produk ini dipakai hampir 50% perusahaan Fortune 100 dan 30% perusahaan Fortune Global 500. Pertanyaannya, apakah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia bisa memakainya? Kenapa UMKM?

Dalam sebuah webinar pada Jumat, 30 Juli 2021, Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Fikri Satar mengatakan, keberadaan UMKM mencakup 99,9% dari seluruh populasi yang ada di Indonesia. “64 juta UMKM di Indonesia, 99,9% dari seluruh populasi usaha yang ada di Indonesia, menyerap 97% tenaga kerja atau setara dengan 130 juta tenaga kerja, berkontribusi 60% lebih terhadap PDB nasional. Kontribusinya dari sisi ekonomi jelas UMKM ini tulang punggung ekonomi Indonesia,” katanya.

Pemerintah Indonesia punya program UMKM Go Digital dengan target ada 30 juta UMKM yang masuk ke bisnis digital di tahun 2023. Lagi-lagi, pandemi COVID-19 mempercepat proses digitalisasi UMKM supaya bisa bertahan. Namun, kata Fikri, hanya sedikit UMKM yang mengambil kesempatan ini. “14,5 juta UMKM yang on-board di marketplace, atau setara 22% total populasi UMKM,” ungkapnya.

Ke depan, harus ada relasi bisnis yang intens antara UMKM dengan bisnis digital, khususnya marketplace. Apalagi, para pelaku UMKM sudah merasakan manfaatnya bergabung dengan marketplace. Hal tersebut diungkap oleh survei Katadata Insight Center (KIC).

Peran Penting Marketplace bagi UMKM saat Pandemi Covid-19 (Mei 2021). Sumber : Katadata Insight Center (KIC), Mei 2021

KIC mengatakan, sebanyak 77% UMKM menilai marketplace berperan penting dalam memasarkan produk. Alhasil, mereka pun dapat bertahan untuk berjualan di masa pandemi COVID-19. 

Sebanyak 75% UMKM menilai marketplace berperan penting dalam menarik konsumen lantaran punya banyak program promosi, seperti ongkos kirim, cashback, dan diskon. Kemudian, UMKM yang menganggap marketplace penting untuk berjualan karena transaksinya aman dan mudah digunakan (user friendly) masing-masing sebanyak 69% dan 66%. 

Ada 55% UMKM menganggap marketplace memberi edukasi lengkap kepada pelaku usaha tentang cara berjualan daring. Bahkan, 35% UMKM menilai marketplace membantu penjualan produk mereka hingga ke ranah ekspor. 

Riset KIC bertajuk “MSME Study Report 2021: Peran Marketplace bagi UMKM” dilakukan terhadap 392 UMKM di Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta dan Medan. Survei dilakukan pada periode 24 Maret hingga 9 April 2021.

Apa hubungannya dengan Red Hat OpenShift Container Platform? Saya pikir, Red Hat Indonesia mau turun gunung untuk menjadi jembatan antara pemain bisnis digital raksasa dengan pelaku UMKM. Red Hat dengan OpenShift-nya telah terbukti membuat bisnis berlari kencang dengan efektifitas dan efisiensi tinggi.

Red Hat bisa memperluas pasarnya. Pemain bisnis digital semakin berkembang dan tetap nyaman – aman berlari karena berada di atas Red Hat OpenShift Container Platform. Dan tentunya, akan semakin banyak UMKM naik kelas.

Dengan ekosistem seperti ini, Red Hat tidak hanya membantu pemerintah mencapai target 30 Juta UMKM Go Digital pada 2023, tetapi meningkatkan perekonomian pelaku UMKM. Bahkan turut memajukan perekomonian Indonesia secara keseluruhan, karena UMKM adalah salah satu pilar penting dalam ekonomi nasional.

Facebooktwitterpinterestmailby feather
Agung Setiawan
Otak-atik, membaca, menulis dan membagikan seputar teknologi.
https://www.onetech.id

Leave a Reply

Top